Senin, 11 Maret 2013

basri sangaji




Basri Sangaji atau Basri jala sangaji mempunyai banyak kawan dan musuh. Delapan pemuda telah mengaku membunuh Basri.Bacajuga 5 Preman paling terkenal di indonesia
BELASAN pria berwajah tak ramah masuk ke Hotel Kebayoran Inn. Hasit Marabesi dan Rusina Lestaluhu yang tengah terkantuk-kantuk di meja resepsionis, serta M. Simbolon dan Sunarono, staf pengamanan hotel, tak berani menghadang. Maklumlah, di genggaman para tamu tak diundang itu terselip kelewang dan golok


Gerak cepat mereka menaiki tangga menyiratkan bahwa mereka tahu benar di mana buruan mereka berada. Kamar 30, lantai dua hotel yang terletak di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, itu. Lalu, brak! Pintu kamar dibuka secara paksa. Tak lama terdengar gaduh orang adu mulut ditingkahi suara besi beradu dan letusan senjata api.

Keributan pada Selasa subuh pekan lalu itu hanya berlangsung 10 menit. Ketika keluar, mereka sempat merusak jip Lexus hitam milik penghuni kamar yang diparkir di depan lobi hotel. Lalu, mereka ngacir dengan dua mobil.

Setelah para penyerbu menghilang, baru pegawai hotel mencari tahu apa gerangan yang terjadi. Ketika menuju ke suite room itu mereka terkesiap. Darah mengalir menuruni anak tangga. Di dalam kamar, mereka saksikan seorang pria tewas, tergeletak di sofa. Dadanya berlubang bekas terjangan peluru. Tangan kirinya putus.

Dia adalah Basri Jala Sangaji, 35 tahun, pemimpin sekelompok pemuda yang menguasai beberapa wilayah yang padat tempat hiburan di Jakarta. Pagi itu Basri tak sendirian. Dia bersama adiknya, Ali Sangaji, 30 tahun, dan orang kepercayaannya, Jamal Sangaji, 33 tahun. Dua orang ini terluka parah. Selangkangan Ali terluka akibat tembakan. Tangan kanan Jamal nyaris putus karena ditebas golok.

Selanjutnya, pegawai hotel menghubungi polisi. Di lokasi kejadian, aparat menemukan pistol berpeluru karet jenis FN kaliber 32 milik Basri. Hari itu juga, jasad Basri dibawa ke rumahnya di perumahan Vila Alfa Mas, Pulo Mas, Jakarta Timur. Ribuan pelayat sudah tumplek di sana. Jenazah hanya singgah semalam. Esoknya dikirim ke Desa Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku Tengah. Di kampung halamannya inilah dia dikebumikan.

Maluku geger dengan kabar tewasnya Basri. Maklum, ia terhitung tokoh pemuda yang memiliki ratusan pengikut. Sebagian dari anak buah Basri adalah "pensiunan" konflik Maluku. Dengan modal massa itu, Basri menjejak kancah politik. Pada pemilihan presiden kemarin, ia termasuk tim sukses pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid.

Suasana kota Ambon pun mencekam. Beredar kabar, anak buah Basri telah tiba di Ambon pada hari yang sama. Cerita balas dendam berseliweran. Kelompok yang dibidik adalah geng yang selama ini berseberangan dengan Basri. Itu sebabnya, Kepala Kepolisian Daerah Maluku, Brigadir Jenderal Aditya Warman, mensiagakan semua personelnya di titik-titik yang dianggap rawan di Maluku.

Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu mengimbau masyarakat agar tak terprovokasi dengan insiden pembunuhan tersebut. Karel tak mau peristiwa berdarah yang menelan 1.842 jiwa akibat konflik antaragama pada 1998-1999 terulang lagi. Peristiwa ini juga diawali bentrok antarpemuda yang mabuk. Karena itu, wajar jika sang Gubernur buru-buru mendinginkan suasana daerahnya.

Buat meredakan ketegangan, Aditya pun buru-buru mengatakan bahwa tersangkanya sudah diketahui dan ditangkap. "Hanya saja masalah ini ditangani di Jakarta," kata Aditya kepada Tempo.

Memang, polisi di Jakarta telah menangkap delapan tersangka. Namun, Komisaris Besar Mathius Salempang belum mau mengungkap motif pembunuhan ini. "Kami melihat fakta-fakta yang ada di lapangan saja," katanya. Jadi, hanya sampai pada delapan tersangka tadi. "Saya sangat yakin mereka pelakunya," kata Mathius.

Pembunuhan Basri mestinya memang gampang terungkap lantaran para pelaku meninggalkan banyak jejak. Misalnya, saksi korban Ali dan Jamal mengenal para penyerang. Peristiwa itu dilihat langsung oleh petugas hotel. Nomor polisi mobil penyerbu juga tercatat oleh petugas parkir.

Salah seorang di antara tersangka itu, Emil, 24 tahun, mengaku membunuh Basri karena dendam. Pemuda ini mengatakan, salah seorang kerabatnya, Lus, tewas dibunuh anak buah Basri di kawasan Kayu Manis, Jakarta Timur, pada 1998.

Seorang tokoh pemuda Ambon mengaku mengenal Emil "Dia pendatang baru di 'dunia persilatan' ini," katanya. Emil juga disebutkan bersandar pada seorang pemimpin kelompok pemuda yang selama ini berseberangan dengan Basri.

Siapa sebenarnya dalangnya? "Tak ada yang menyuruh. Kami membunuh karena dendam," kata Louis, 24 tahun, salah seorang tersangka. Kepada wartawan, pemuda Ambon ini mengatakan ke Hotel Kebayoran Inn juga hanya kebetulan saja. "Kami hanya main-main."

Salah seorang musuh Basri adalah Herkules, seorang pemimpin kelompok pemuda yang pernah tenar di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Menurut Herkules, semasa hidupnya Basri meninggalkan jejak keruh. Herkules yang mengaku kenal Basri di diskotek Zona di bilangan Karet, Jakarta Pusat, pada 1991, ini pernah bentrok dengan Basri.

Penyebabnya, seorang pengusaha mengalihkan surat kuasa penagihan utang dari Basri kepada Herkules. Perkelahian terjadi di Kemang IV, Jakarta Selatan, pada Mei 2002. Satu orang tewas dari kelompok Basri. Bibir Herkules terserempet peluru.

Sejak itu, Herkules mengatakan, Basri musuh besarnya. "Dia banyak musuhnya yang sedang antre untuk membunuhnya. Tapi dia mati bukan karena saya. Saya tak tahu pelakunya," katanya kepada Tempo. Herkules mengatakan, Basri juga bermusuhan dengan Ongen Sangaji dan John Kei. "Bahkan pengusaha yang pernah berurusan dengan dia pun menjadi musuhnya," katanya.

Ongen Sangaji yang disebut Herkules adalah seorang tokoh pemuda dari Maluku yang cukup disegani. Tapi, Ongen mengaku tak tahu riwayat tewasnya Basri. "Saya juga sudah lama tak berhubungan dengan Basri, sudah dua tahun," katanya kepada Tempo. "Saya gelap sekali tentang dia," katanya sambil mengucapkan salam dan menutup pembicaraan.

John Kei juga seorang tokoh pemimpin sekelompok pemuda di Jakarta. Dia datang dari Pulau Kei, Maluku. Basri dan John Kei tercatat pernah bentrok beberapa kali. Di antaranya perkelahian di Diskotek Stadium, Jakarta Barat, pada Selasa, 2 Maret. Dua petugas keamanan diskotek tewas. Bentrokan berlanjut di depan Pengadilan Negeri Jakarta Barat, pada Selasa, 8 Juni. Dalam perkelahian itu, jiwa Walterus Refra, kakak kandung John Kei, melayang.

Tak gampang melacak keberadaan John Kei hari-hari belakangan ini. Ketika Tempo menghubungi telepon genggam John Kei, yang menyahut justru seorang wanita. "Pak John sedang tak ada," jawabnya sambil menutup telepon. Pembelaan untuk John justru datang dari pihak kepolisian. "Sejauh ini belum ada keterlibatan dia," kata Mathius.

Selain berselisih dengan "para pendekar", Basri sempat pula berselisih paham dengan seorang pejabat penting di Maluku. Basri pernah menghardik pejabat ini di depan umum di Ambon. Seorang pengusaha ternama di Maluku juga menjadi musuh Basri. Persoalannya menyangkut sebuah proyek pembangunan di Maluku.

Kisah sepak terjang Basri memang cukup panjang. Kunci untuk mengungkap secara tuntas kasus ini bergantung pada pengakuan delapan tersangka tadi. Jangan lupa juga, ada saksi korban yang masih hidup, Ali dan Jamal.

Preman indonesia yang paling terkenal


preman di indonesia tommy winata mafia daftar preman indonesia anak tommy winata mafia indonesia tommy winata istri muda tommy winata preman paling terkenal di indonesia nama mafia indonesia


1. Tommy Winata
Mengendalikan Bank Artha Graha, yang dulu bernama Bank Propelat, milik Kodam Siliwangi. Bank Artha Graha adalah pilar utama kerajaan bisnis Tommy: Grup Artha Graha.








2.JOHN KEI

Jhon Refra Kei atau yang biasa disebut Jhon Kei, tokoh pemuda asal Maluku yang lekat dengan dunia kekerasan di Ibukota. Namanya semakin berkibar ketika tokoh pemuda asal Maluku Utara pula, Basri Sangaji meninggal dalam suatu pembunuhan sadis di Hotel Kebayoran Inn di Jakarta Selatan pada 12 Oktober 2004 lalu.
Jhon Kei merupakan pimpinan dari sebuah himpunan para pemuda Ambon asal Pulau Kei di Maluku Tenggara. Mereka berhimpun pasca - kerusuhan di Tual, Pulau Kei pada Mei 2000 lalu. Nama resmi himpunan pemuda itu Angkatan Muda Kei ( AMKEI ) dengan Jhon Kei sebagai pimpinan. Ia bahkan mengklaim kalau anggota AMKEI mencapai 12 ribu orang.




3. OLO PANGGABEAN
Olo Panggabean lahir di Tarurung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara 24 Mei 1941. Nama lengkapnya adalah Sahara Oloan Panggabean, tapi lebih suka di panggil OLO, yang dalam bahasa Tapanuli artinya YA atau OK.
Olo Panggabean diperhitungkan setelah keluar dari organisasi Pemuda Pancasila, saat itu di bawah naungan Effendi Nasution alias Pendi Keling, salah seorang tokoh Eksponen ’66′. Tanggal 28 Agustus 1969, Olo Panggabean bersama sahabat dekatnya, Syamsul Samah mendirikan IPK. Masa mudanya itu, dia dikenal sebagai preman besar.




4. HERCULES
merupakan seorang pejuang yang pro terhadap NKRI ketika terjadi ketegangan Timor - timur sebelum akhirnya merdeka pada tahun 1999. Maka tak salah jika sosoknya yang begitu berkarisma ia dipercaya memegang logistik oleh KOPASSUS ketika menggelar operasi di Tim - tim.

Namun nasib lain hinggap pada dirinya, musibah yang dialaminya di Tim - tim kala itu memaksa dirinya menjalani perawatan intensif di RSPAD Jakarta. Dan dari situlah perjalanan hidupnya menjadi Hercules yang di kenal sampai sekarang, ia jalani.

Hidup di Jakarta tepatnya di daerah Tanah Abang yang terkenal dengan daerah ‘Lembah Hitam’, seperti diungkapkan Hercules daerah itu disebutnya sebagai daerah yang tak bertuan, bahkan setiap malamnya kerap terjadi pembacokan dan perkelahian antar preman.


5.Basri Jala Sangaji
35 tahun, pemimpin sekelompok pemuda yang menguasai beberapa wilayah yang padat tempat hiburan di Jakarta.Basri Sangaji mempunyai banyak kawan dan musuh. Delapan pemuda telah mengaku membunuh Basri. baca selengkapnya tentang basri sangaji


Jejak berdarah perseteruan kelompok John Kei dan Hercules




Bentrokan berdarah kembali pecah di Jakarta. Mereka yang terlibat ternyata dari kelompok John Refra Kei dan Hercules. Perseteruan dua kubu ini sepertinya sulit dihentikan meski sudah ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum.

Kekerasan yang dilakukan dua kelompok ini dipertontonkan Rabu (29/8) kemarin di Perumahan Taman Palem, Jalan Kamal Raya, Cengkareng, Jakarta Barat. Pemicunya tidak lain soal rebutan lahan tanah yang awalnya dijaga oleh kelompok Hercules. Namun tiba-tiba saja anak buah John Kei datang.

Polisi mengambil tindakan tegas dengan menembak dua orang yang terlibat bentrokan hingga tewas. Hingga kemarin Polres Metro Jakarta Barat masih memeriksa 102 pelaku dan akhirnya menetapkan dan menahan 98 orang sebagai tersangka.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto mengatakan, kedua kelompok ini merupakan rival yang ingin menunjukkan eksistensinya. Mereka ini menjadi kelompok yang paling disegani di Jakarta.

"Di lapangan mereka cenderung rival. Kalau untuk pemicu kecenderungan untuk menjadi yang paling disegani," kata Rikwanto kepada merdeka.com.

Sebenarnya dua nama itu sudah tidak asing dengan sejumlah aksi kekerasan. Beberapa waktu lalu nama Hercules sempat tersangkut dalam kasus penyerangan di Rumah Sakit Gatot Soebroto. Diketahui rumah Hercules dijadikan tempat ngumpet pelaku penyerangan Irene Tupesi dan suami.

Sedangkan John Kei saat ini sedang menjadi pesakitan karena terlibat pembunuhan Bos PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono atau Ayung. Bahkan oleh Jaksa Penuntut Umum, John Kei didakwa melakukan pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati.

Meski beberapa kali berurusan dengan hukum, pria dengan nama Hercules Rosario de Marshal itu tetap saja ditakuti. Hercules dan anaknya buah dikenal terbiasa menyediakan jasa untuk menjaga lahan di beberapa kawasan Jakarta. Hercules juga sering memimpin langsung tawuran yang melibatkan kelompoknya.

Sosok Hercules identik dengan Tanah Abang. Di wilayah yang dikenal keras itu Hercules begitu ditakuti. Lebih mengerikan ketika Hercules tak tewas meski pernah menderita 16 luka bacok dan sebuah timah panas menembus matanya hingga ke bagian belakang kepala. Beredar isu jika Hercules memang memiliki ilmu kebal.

Setali tiga uang, sosok John Kei juga akrab dengan dunia kekerasan di Ibu Kota. John Kei merupakan pimpinan Angkatan Muda Kei (AMKEI). Lewat organisasi itu, John mulai mengelola bisnisnya sebagai debt collector alias penagih utang. Kelompok John Kei bisa dikatakan penagih kelas atas dengan nominal tak lagi uang receh.

Sebenarnya sudah berulang kali kelompok John Kei membuat ulah. Misalnya pada 2004 puluhan anak buah John Kei menyerbu dua anak buah Sangaji yang menjadi sekuriti di diskotek Stadium, Jakarta Barat. Meski terus berulah, nyali penegak hukum seperti ciut menghadapi mereka.

Aksi tegas polisi saat keributan di Cengkareng diharapkan bisa membuat para pembuat ulah ini. Masyarakat Jakarta tentu menginginkan hidup tenang tanpa ada gangguan dari para preman bayaran.

Jumat, 08 Maret 2013

Atasi Bentrok TNI-Polri




Tampaknya masih terbungkus kuat faktor-faktor laten yang membuat hubungan TNI – Polri terus saja panas-dingin. Bentrokan antara TNI Vs Polri yang terjadi di Ogan Kumering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, Kamis (7/3) pekan ini, hanyalah puncak gunung es dari berbagai persoalan yang terjadi dalam hubungan antara dua institusi bersenjata ini.

Sayangnya, setiap kali terjadi bentrokan antarpersonel dari dua institusi ini, alasanalasan sepelelah yang kerap muncul, seperti kenakalan prajurit di lapangan, luapan emosi, senggolan antara personel, hingga rebutan pacar. Akar persoalan dari hubungan TNI-Polri selalu luput dari perhatian. 

Itulah makanya konflik TNI-Polri tak pernah terselesaikan secara tuntas. Kejadian pun selalu saja berulang. Lihat saja, sejak dua institusi ini berpisah pada 1 April 1999 — sesuai amanat reformasi — kemesraan antara keduanya malah semakin sering terganggu. Anggota Polri-TNI yang bertugas di lapangan banyak kali terlibat bentrokan. 

Catatan Indonesia Police Watch (IPW) menyebutkan, sejak 2007 sampai dengan saat ini, setidaknya telah terjadi 17 peristiwa bentrokan. Rinciannya: pada 2007 terjadi 3 peristiwa, 2008 terjadi 2 peristiwa, 2009 terjadi 4 peristiwa, 2010 terjadi 6 peristiwa, 2011 terjadi 1 peristiwa, April 2012 terjadi 1 pe-ristiwa. 

Melihat angka-angka di atas, maka sudah selayaknya kita tidak boleh lagi memandang sebelah mata hubungan yang tak harmonis antara dua lembaga ini. Apalagi TNI dan Polri mempunyai tugas dan tanggung jawab besar, yakni masing-masing sebagai penjaga negara dan penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Apa jadinya jika kedua institusi pengawal/penjaga negara dan pengayom masyarakat ini justru terlibat saling sikut dengan menggunakan senjata yang dibeli dari uang rakyat? Ini tentu sangat berbahaya bagi masyarakat.

Karena itulah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pimpinan Polri, dan pimpinan TNI harus segera mengambil langkah-langkah solutif yang lebih holistik dan komprehensif untuk mengakhiri bentrok personel yang merusak citra kelembagaan ini. Insiden pembakaran Mapolres OKU, Sumsel, dan berbagai kasus sikut-sikutan antara personal TNI dan Polri selama ini, jangan hanya dipandang sebagai akibat emosi sesaat, tapi ini sebuah sinyal nyata tentang adanya ketidakberesan dalam hubungan strukturalinstitusional antara kedua lembaga ini.

Kalau hanya karena masalah dendam pribadi, emosi sesaat atau rebutan pacar, jajaran pimpinan kedua instititusi ini bisa menyelesaikannya dengan mengesampingkan ego masing-masing-masing. Tapi, bila persoalan antara TNI dan Polri menyangkut masalah struktural-institusional, penataan ulang atas peran keduanya harus menjadi perhatian utama. Di sini, semua pihak harus mendorong dan mengembalikan TNI dan Polri ke fungsi sebenarnya, yakni sebagai aparat bersenjata yang dibiayai rakyat dengan tugas melindungi serta mengayomi rakyat.

Dalam menjalankan fungsinya itu, TNI dan Polri juga terikat erat dengan tugas-tugas penegakan hukum. Karena itu, dalam hal pelanggaran lalu lintas, misalnya, yang sering menjadi pemicu bentrok antara personel TNIPolri, kedua institusi ini harus saling mendukung. Tak boleh ada yang merasa superior. Institusi TNI tak boleh merasa dirinya punya power untuk melawan hukum.

Sebaliknya, sebagai lembaga penegak hukum, Polri juga harus tegas dan tak diskriminatif dalam menegakkan peraturan/hukum yang berlaku. Kalau ada anggota Polri yang terlibat kasus hukum, yang bersangkutan harus tetap diproses secara hukum. Kasus penyerangan dan pembakaran Mapolres OKU sejatinya bersumber dari tumpukan ketidakpercayaan pada proses penegakan hukum yang akhirnya pecah dalam bentuk aksi. Kita berharap kasus OKU menjadi pelajaran berharga bagi jajaran TNI dan Polri.

Dalam kasus seperti itu, hukum harus menjadi panglima, dan personel TNI-Polri tunduk pada hukum, siapa pun dan apa pun jabatan yang disandangnya. Dalam hal penegakan hukum, TNI dan Polri harus memberikan contoh yang baik bagi masyarakat. 

Selain terkait penerapan hukum di lapangan, bentrokan TNI-Polri juga sering dipicu oleh faktor kesejahteraan. Sungguh sebuah fakta menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan pendapatan (kesejahteraan) antara TNI dan Polri. Makanya ada satire yang sering kita dengar bahwa sekarang ini, “TNI penuh dengan tantangan dan Polri penuh dengan tentengan”. Ini memang keadaan yang nyata di lapangan. 

Pemerintah jangan menutup mata dan harus segera mencari solusi atas gap psikologis antara TNI dan Polri saat ini. Kebijakan negara memisahkan Polri dari TNI, serta menyerahkan sepenuhnya kewenangan keamanan dalam negeri kepada Polri, telah menimbulkan kecemburuan psikologis TNI. Hal itu masih ditambah lagi dengan adanya aturan larangan berbisnis bagi institusi TNI yang semakin menambahkan kecemburuan ekonomi, karena telah menutup peluang akses ekonomi petinggi- petinggi dan oknum TNI lainnya.

Sebaliknya, anggota Polri, meskipun tidak seluruhnya, tingkat ekonominya lebih sejahtera ketimbang prajurit TNI. Faktor-faktor laten seperti itulah yang membuat konflik antara oknum-oknum TNI dan Polri mudah tersulut, meski karena masalah sepele. Oleh karena itu, pemerintah harus berani meningkatkan kesejahteraan prajurit TNI secara maksimal sehingga setara dengan anggota Polri. Remunerasi dan fasilitas hidup yang baik adalah jawaban atas masalah itu. Tanpa adanya peningkatan kesejahteraan prajurit TNI, sulit terhindarkan akan ada lagi bentrok antara TNI-Polri di masa mendatang. (*)

Ricuh Bonek vs Aremania Dipicu Tewasnya Bonek



Kericuhan pendukung laga Gresik United melawan Arema, Kamis, 7 Maret 2013, diduga dipicu tewasnya seorang Bonek suporter Persebaya Eric Setiawan. Eric, yang tewas di Jl. Wahidin depan Kantor Pertanian, Gresik, diduga korban salah sasaran massa beratribut Aremania. 

Insiden ini pun memicu kemarahan Bonek. Menurut Koordinator Bonek liar Bram Oky, sejumlah Bonek mencoba menghadang rombongan Aremania di tol arah Malang. Terjadilah kerusuhan di akhir pertandingan Gresik vs Arema. Massa Bonek melakukan sweeping di tol, mencari kendaraan berplat nomor N ataupun massa beratribut Aremania.

Gerakan mereka dihadang polisi. Kepolisian menutup akses jalan tol dan melarang semua kendaraan melintasi tol arah Mojokerto dan Malang. Kericuhan berlanjut. Ratusan polisi dikerahkan untuk mengamankan jalan tol yang telah dikepung massa Bonek. Kericuhan sampai melibatkan warga. 

Hingga Kamis malam tadi, Bonek mengepung tol terutama di KM 5 dan 6. Kepala Polisi Resort Kota Besar Komisaris Besar Tri Maryanto mengerahkan tambahan personal di lokasi untuk berjaga-jaga. Walikota Surabaya Tri Rismaharini sempat terkena gas air mata dan mendapatkan perawatan medis. 

Gesekan berlanjut, namun kali ini Bonek bentrok dengan polisi. Bram menuturkan bentrok terjadi lantaran polisi bersikap represif. "Mereka menembakkan gas air mata ke massa, kalau begini terus enggak berhenti-henti," kata Bram. 

Dari atas jembatan tol, Pasukan Anti Huru-hara Kepolisian Daerah Jawa Timur nampak menembakkan water canon. Tidak lama kemudian, gas air mata ditembakkan berkali-kali untuk menghalau massa Bonek. Massa yang mengamuk membakar truk di KM 12. 

Sekitar pukul 01.00 WIB, Jumat, 8 Maret 2013, polisi mulai menghalau massa di pintu keluar Tol Banyu Urip di Jl. Simo Kalangan Surabaya. Bonek yang berbaur dengan warga lari ke perkampungan. Kini kondisi berangsur-angsur kondusif. Meski polisi dan Komando Distrik Militer Kecamatan Sukomanunggal masih berjaga di lokasi. 

Informasi yang diterima Tempo, rombongan Aremania terus mendapat perlawanan dari warga saat melintasi kawasan Krian dan Mojokerto. 

SUMBER

BENTROK BONEK VS AREMA



Laga lanjutan Liga Super Indonesia antara klub Gresik United melawan Arema, Kamis, 7 Maret 2013, kemarin berujung ricuh. Bentrok terus berlangsung sampai tengah malam meski Jumat 8 Maret 2013 dini hari ini situasi berangsur kondusif. Tiga orang dikabarkan tewas dan sejumlah orang lainnya luka-luka dalam kejadian ini.

Data sementara menyebutkan dua Aremania tewas, tujuh orang sekarat, tujuh bus dirusak, satu sepeda motor dibakar dan ratusan luka-luka. Dari kubu bonek pendukung Persebaya, ada satu orang tewas atas nama Erik Setiawan, dan delapan orang terluka. Namun, informasi yang ada masih simpang siur karena belum ada keterangan resmi tentang jumlah korban.

Kericuhan bermula dari tewasnya seorang bonek suporter Persebaya Eric Setiawan di Jl. Wahidin depan Kantor Pertanian, Gresik. Eric diduga menjadi korban salah sasaran massa beratribut Aremania. Pendukung Arema dan Persebaya memang sudah lama berseteru. Insiden ini pun memicu kemarahan bonek yang lain. 

Menurut Koordinator bonek liar Bram Oky, sejumlah bonek berencana menghadang rombongan Aremania di tol arah Malang. Namun kerusuhan terjadi di akhir pertandingan. Massa bonek melakukan sweeping di tol, mencari kendaraan berplat nomor N ataupun massa beratribut Aremania. Sehingga polisi harus menutup akses jalan tol dan melarang kendaraan arah Mojokerto dan Malang melintasinya. 

SUMBER

Sulsel Antisipasi Dampak Bentrok TNI-Polri OKU



Kepala Penerangan Kodam VII/Wirabuana, Letnan Kolonel Yance Wolley, mengatakan seluruh pimpinan di setiap satuan dalam lingkup TNI sudah diinstruksikan untuk melakukan tindakan preventif guna mencegah meluasnya bentrok TNI-Polri. "Setiap anggota agar tidak terprovokasi," katanya. Koordinasi dan kerja sama dengan kepolisian pun terus ditingkatkan setelah kejadian pembakaran Markas Polres OKU, Sumatera Selatan. 

Sebelumnya Markas Kepolisian Resor Ogan Komering Ulu diserang dua batalion TNI AD.Mereka membakar kantor serta memukuli sejumlah anggota kepolisian. Penyerangan dipicu oleh peristiwa penembakan anggota TNI, Prajurit Satu Heru Oktavianus, oleh anggota Polres OKU, Brigadir Wijaya, dua bulan lalu. Meski dua bulan berlalu, tetapi proses hukum terhadap Brigadir Wijaya tak jelas ujungnya. Hal tersebut membuat rekan-rekan Heru marah dan berujung pada penyerbuan markas kepolisian setempat. Sejumlah pihak khawatir konflik tersebut merembet ke daerah lain.

Yance mengatakan pihaknya juga sudah memperingatkan setiap pimpinan untuk terus mengontrol prajuritnya, terutama pada malam hari dan hari libur. "Waspadai malam dan hari libur yang memberi peluang anggota berkumpul dan terprovokasi melakukan tindakan anarkistis," kata dia. Di lain pihak, hubungan Kodam VII/Wirabuana dengan jajaran Polri di Sulawesi berlangsung harmonis.

Hal senada diungkapkan Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar, Komisaris Besar Endi Sutendi. "Semua polres dan polsek yang berada di wilayah hukum Sulselbar sudah diminta untuk tidak terpancing dan memicu bentrok. Kita semua mau kondisi aman dan damai," ucapnya.

SUMBER